Kau minta aku menulis cinta, aku tak tahu huruf apa yang pertama dan seterusnya
Kubolak-balik seluruh abjad, kata-kata cacat yang kudapat
"Jangan lagi minta aku menulis cinta...!"
Huruf-hurufku..., kau tahu,
bahkan tak cukup untuk namamu
Sebab cinta adalah kau, yang tak mampu kusebut
kecuali dengan denyut
Ada sebuah pemahaman dari beberapa orang yang telah lama menggelitik hati dan kerap kali membuatku bertanya-tanya. Yaitu
bahwa dia takut untuk jatuh cinta, sebab cinta itu menodai hati. Pertanyaan yang lama muncul di hatiku
adalah, apakah benar jatuh cinta itu menodai hati...? Lalu bagaimana dengan
orang yang sedang mengalami jatuh cinta...? Sementara itu adalah sebuah fitrah dan naluri dasar yang dimiliki setiap manusia, yang tak mungkin
dihindari bahkan menuntut dipenuhi.
Sangat tidak logis sekali apabila Allah menciptakan naluri dasar dalam diri
setiap makhlukNya dengan resiko dosa, sementara si makhluk tidak memiliki kemampuan untuk menghentikannya. Karena naluri itu merupakan sesuatu yang harus dipenuhi, sebagaimana orang lapar yang harus dipenuhi dengan makan.
Pada dasarnya, masing-masing dari
kita mempunyai potensi kehidupan, yang terbagi
menjadi dua. Pertama, kebutuhan tubuh sehari-hari dan kedua, naluri. Dan kedua hal ini membutuhkan pemenuhan saat munculnya keinginan, dan jika tidak dipenuhi maka menimbulkan keresahan. Hanya saja dalam pemenuhannya, ada
yang sangat mendesak. Dan jika tidak dipenuhi bahkan bisa mengancam nyawa seseorang. Dan adakalanya
pemenuhannya tidak mendesak, namun jika tidak terpenuhi menimbulkan ketidaktenangan. Kebutuhan tubuh adalah hal yang dalam pemenuhannya membutuhkan segera dan harus, jika tidak dipenuhi maka bisa membuat mati seseorang. Adapun naluri adalah sesuatu yang dalam usaha pemenuhannya, andai tidak terpenuhi tidak lantas menyebabkan seseorang mati, namun bisa menimbulkan keresahan luar biasa. Naluri ini sendiri ada tiga. Pertama, naluri beragama. Kedua, naluri bertahan hidup. Ketiga, naluri jatuh cinta, atau kecondongan pada lain jenis.
Jika kita melihat potensi kehidupan yang terdapat dalam diri kita, maka jatuh cinta pada awalnya adalah bukanlah sesuatu yang
seketika itu menyebabkan dosa apalagi menodai hati. Dari sini kita harus membedakan antara "Cinta Allah" dan jatuh cinta pada lain jenis. Kedua cinta ini sama sekali bukanlah satu kata cinta yang sering kita kenal. Meski definisi cinta
masih sangat abstrak, namun kedua jenis cinta ini benar-benar berbeda
dan tidak sama. Maka tentu kesalahan anggapan apabila menyamakan antara cinta pada Allah dan RasulNya, dengan cinta kepada makhluk.
Banyak di antara kita takut menduakan cintanya kepada Allah, bahkan sampai tingkat takut syirik
apabila sampai jatuh cinta pada selain Allah. Ketakutan ini muncul sebab kekurang pahaman kita akan potensi dan naluri yang telah tercetak dalam diri kita masing-masing. Maka tentu saja yang dibutuhkan adalah kecerdasan kita dalam memanage hati dan mengendalikannya saat mengalami jatuh cinta pada makhluk. Bagaimana naluri yang fitrah ini bisa terlampiaskan tanpa harus menjadi dosa. Sebab tentu saja pelampiasan naluri yang tidak pada tempatnya, yang tidak sesuai dengan tatacara syariat, maka itulah yang menyebabkan dosa. Adapun jatuh cintanya sendiri, saat masih murni dengan berupa pendar-pendar merah jambu yang belum terungkapkan, dengan masih berputar dalam lingkup hati serta belum terungkapkan dengan kata-kata. Itu sama sekali bukanlah merupakan suatu dosa. Dan juga tidak mengurangi nilai cinta kita pada Allah dan RasulNya, apalagi sampai membuat syirik. Cinta kepada lawan jenis bisa membuat kedekatan kita pada Allah jadi berkurang dengan terpecahnya konsentrasi...? Pertanyaan yang terarah, dan jawaban atas pertanyaan ini adalah hal itu kembali kepada kecerdikan kita dalam memanage rasa cinta yang mendadak timbul di hati.
Keberkurangan "Cinta pada Allah" saat munculnya rasa cinta pada lain jenis adalah sebab ketidakpandaian kita dalam mengatur cinta itu, bukan sebab terbaginya cinta menjadi dua. Sebab cinta pada Allah itu hal, dan cinta pada makhluk juga hal yang lain. Bukan satu hal yang sama. Ini yang perlu kita pahami agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Catatan ini bukan lantas mentolelir jatuh cinta
semaunya ke siapa saja, tetapi catatan ini menunjukkan bahwa seperti inilah hakikat cinta. Agar tidak timbul kebingungan yang semakin menambah keabstrakan tentang cinta itu sendiri yang justru membuat kacau balau manajemen hati kita saat cinta itu mendadak muncul.
Akhir catatan, pernyataan bahwa cinta adalah virus, sebenarnya adalah
kesalahan besar. Cinta bukan virus, karena cinta adalah bagian dari hidup
kita sendiri, dan ia adalah potensi dalam diri kita yang membutuhkan manajemen tersendiri. Pemahaman yang harus diluruskan.
Kubaringkan rasa di bawah gundukan tanah itu, membalut asa
Lalu mengkafani cinta dengan sebilah ritme air mata
Taburan bebunga tiba-tiba melabuh, menyelimuti nisan yang bertuliskan namaku

0 komentar:
Posting Komentar